uraikan tingkat pertama proses penulisan buku pada masa abbasiyah

Untukmenyusun karangan yang baik perlu diperhatikan dalam memilih judul, topik, tujuan penulisan, bahan penulisan, dan penyusunan kerangka karangan. B. Saran Dalam penulisan tugas merencanakan karya ilmiah ini akan lebih baik dan lebih bermakna apabila ada sumbang dan saran untuk penulisan makalah ini. Padamasa Bani 'Abba>siyah, metode tulisan dianggap metode yang paling penting pada masa ini. Metode tulisan adalah pengkopian karya-karya ulama. Dalam pengkopian buku-buku terjadi proses intelektualisasi hingga tingkat penguasaan pengetahuan murid semakin meningkat. Metode ini MAHMUDYUNUS (SKRIPSI) BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sejarah awal pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia sebenarnya telah jauh sebelum Indonesia merdeka bahkan menurut Mahmud Yunus pendidikan Islam di Indonesia telah ada sejak pertama kali agama Islam datang ke negeri ini. Uraikantingkat pertama proses penulisan buku pada masa abbasiyah Perkembangan ilmu pengetahuan di masa Abbasiyah Pada masa abbsiyah ini terdapat perkembangan ilmu wawasan, antara lain sebagai berikut: Menerjemahkan buku-buku dr bahasa aneh (Yunani,Syiria Ibrani, Persia, India, Mesir, & lain-lain) ke dlm bahasa Arab. Orangyang pertama kali mengangkat sumpah setia adalah Qays bin Sa'ad, kemudian diikuti oleh umat Islam pendukung setia Ali bin Abi Thalib. Pengangkatan Hasan bin Ali di hadapan orang banyak tersebut ternyata tetap saja tidak mendapat pengangkatan dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan para pendukungnya. Ajin Partnersuche Für Ledige Zeugen Jehovas. This study aims to find out various issues ranging from the history of the establishment of the Abbassid dynasty to the development of modern Islamic education, the Islamic world again reached its peak of glory during the reign of the Abbasid Daula which was centered in Baghdad, five and a half centuries since its establishment in 132 H 750 AD. until the destruction of Baghdad by Hulagu Khan in 1268 AD 656 H. The sovereignty of the Muslims in this era has reached the peak of glory, both wealth, progress, or power. Even in this era, various Islamic sciences have been born and developed and various important sciences have been translated into Arabic. It seems that reforming ideas about the education system always get the attention of every reformer thinker. This is because education is an arena of study that never runs dry, because the main problem being discussed is about humans and all their aspects. In addition, the way to achieve the goal of thinking is done, both through formal and non-formal education. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free ALSYS Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan Volume 1, Nomor 1, November 2021; 97-112 SEJARAH DINASTI ABBASSIYAH DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM MASA MODERN Rosanti Salsabila UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Abstract This study aims to find out various issues ranging from the history of the establishment of the Abbassid dynasty to the development of modern Islamic education, the Islamic world again reached its peak of glory during the reign of the Abbasid Daula which was centered in Baghdad, five and a half centuries since its establishment in 132 H 750 AD. until the destruction of Baghdad by Hulagu Khan in 1268 AD 656 H. The sovereignty of the Muslims in this era has reached the peak of glory, both wealth, progress, or power. Even in this era, various Islamic sciences have been born and developed and various important sciences have been translated into Arabic. It seems that reforming ideas about the education system always get the attention of every reformer thinker. This is because education is an arena of study that never runs dry, because the main problem being discussed is about humans and all their aspects. In addition, the way to achieve the goal of thinking is done, both through formal and non-formal education. Keywords development, education, Islam Abstrak Penelitian ini bertujan untuk mengetahui berbagai persoalan mulai dari sejarah berdirinya dinasti Abbassiyah sampai perkembangan Pendidikan Islam masa modern, dunia Islam kembali mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, lima setengah abad lamanya yaitu sejak bangunnya tahun 132 H 750 M sampai dihancurkannya Baghdad oleh Hulagu Khan pada tahun 1268 M 656 H. Kedaulatan kaum muslimin di zaman ini telah sampai ke puncak kemuliaan, baik kekayaan, kemajuan, ataupun kekuasaannya. Bahkan pada zaman ini pula, telah lahir dan berkembang berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Tampaknya, pemikiran pembaharuan tentang sistem pendidikan, selalu mendapat perhatian dari setiap pemikir pembaharu. Hal ini disebabkan oleh adanya pendidikan itu merupakan arena studi yang tidak pernah kering, karena masalah pokok yang menjadi pembahasannya adalah mengenai manusia dengan segala aspeknya. Di samping itu, jalan untuk mencapai tujuan pemikiran dilakukan, baik melalui pendidikan formal maupun non-formal. Kata Kunci Perkembangan, Pendidikan, Islam Rosanti Salsabila ALSYS Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan PENDAHULUAN Dalam catatan sejarah, ajaran Islam menghadapi pasang surutnya. Dari masa Rasulullah saw hingga 3 pemerintahan setelahnya kekhalifahan Khulafaur Rashidin, tradisi Umayyah, dan Abbasiyah yang masing-masing pemerintahannya memiliki ciri khas atau perbaikan. Masa ajaran Islam terjadi di tengah masa Rasulullah SAW, kemudian dilanjutkan dengan masa penyempurnaannya, tepatnya pada masa Khulafaur Rasyidin. Puncaknya adalah pada masa Abbasiyah, pemerintahan yang dianggap berasal dari keluarga Nabi Muhammad SAW yang pernah mengalami masa kemenangan di segala Islam ditandai dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan, budaya dan pengajaran Islam. Kemajuan cepat ini didukung oleh kehadiran guru yang menyesuaikan dengan peningkatan ini. Saat itu, pembelajaran logika dibangun sebagai pusat pembelajaran IPA, budaya dan ajaran tengah pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid, ia terlalu dinamis dalam menafsirkan berbagai buku dialek luar ke dalam bahasa Arab. Organisasi interpretasi yang tidak umum didirikan untuk tujuan menafsirkan data dan informasi berbeda yang terkandung dalam buku-buku luar. Tafsir yang dibangun dimotori oleh seorang master, khususnya wadah Yuhana Musawih. Saat itu, bahasa Arab merupakan dialek resmi bangsa dan dialek pengantar di sekolah dan perguruan tinggi, serta menjadi alat atau implikasinya untuk komunikasi PENELITIAN Tipe riset ini ialah riset kualitatif. Sesuai dengan obyek kajian artikel ini, sehingga tipe riset ini tercantum dalam jenis riset kepustakaan library research. Bagi Kaelan, dalam riset kepustakaan kadangkala mempunyai deskriptif serta pula mempunyai karakteristik historis. Metode pengumpulan informasi, dalam perihal ini Mahfud Ifendi, Dinasti Abbasiyah Studi Analisis Lembaga Pendidikan Islam, Jurnal Fenomena, STAI Sanggatta Kutai Timur, Volume 12 Nomor 2, Edisi 2020 Fuad Riyadi, Perpustakaan Bayt Al-Hikmah, “The Golden Age Off Islam”, Jurnal Libraria, STAIN Kudus, Volume 2, Nomor 1, Edisi 2014 Budiyati dan Anisa Dwi Makrufi, Peradaban Islam Periode Daulah Abbasiyah Dalam Meningkatkan Minat Membaca Masyarakat, Jurnal Pendidikan Islam, FITK UIN Malang, Volume 3 Nomor 2, Edisi Januari 2019. Rosanti Salsabila Volume 1, Nomor 1, November 2021 penulis melaksanakan analisis dari berbagai literatur yang ada yang berkaitan dengan lembaga pendidikan Islam di era dinasti Abbasiyah. Berikutnya penyusunan ini ditelaah dengan memakai model analisis interaktif Milles and Huberman, dengan alur reduksi informasi, penataan informasi serta penarikan DAN PEMBAHSAN Sejarah Dinasti Abbasiyah Landasan garis Abbasiyah dimulai dengan runtuhnya tradisi Umayyah yang mendorong runtuhnya garis Umayyah di Damaskus. Dengan segala bentrokan yang ada di dalam tubuh kaum Bani Umayyah, membuat kaum Abbasiyah tampil sebagai pengganti wibawa kaum Muslimin. Konfrontasi pemberontakan otoritas Abbasiyah terhadap Bani Umayyah mendapat kepekaan yang sangat besar dari masyarakat, terutama dari kalangan Syi'ah. Dorongan tersebut datang karena adanya jaminan untuk mendirikan kembali ekuitas seperti yang dilakukan oleh KhulafaurrasyidinDaulah Abbasiyah dibangun, benar-benar atas dasar penyalahgunaan pemegang kendali daulah Umayyah seperti pelanggaran, tandan, suku, klan dan sahabat, serta penganiayaan terhadap Syiah, Hasyimiyah dan pengucilan terhadap Muslim Ajam. Pada saat itu ada perkembangan bawah tanah untuk membantahnya. Di sisi lain, penting bagi Umayyah, bahwa dia adalah orang pertama yang menahan penjara bagi mereka yang terbukti bersalah setelah dijatuhi hukuman dalam persidangan itu. Saat itu, ijtihad dilaksanakan seluas-luasnya tanpa terikat oleh satu orang pun, memang dalam "al-Qadha fi al-Islām" disebutkan bahwa qadhi memilih kasus-kasus tanpa muatan positif atau ijma "ulama pendahulu, baik di dalam kerangka melihat atau dalam bingkai jika dia mengalami kesusahan, maka dia meminta bantuan dari ahli hukum Mesir dan dari antara mereka banyak yang Kaelan, metode penelitian kualitatif interdispliner, Yogyakarta , Indonesia Pradigma, 2010, Nunzairina, Dinati Abbasiyah kemajuan peradaban islam, pendidikan dan kebangkitan kaum intelektual, jurnal sejarah peradaban islam, Fakultas Ilmu Sosial, UIN Sumatera Utara, Volume 3 Nomor, Edisi Januari 2020 Rosanti Salsabila ALSYS Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan dibimbing oleh khalifah dan wali dalam hal ini memutuskan lihat. Muhammad Salam Madkur 1964.Khalifah-khalifah dinasti abbassiyah Dalam perkembangannya Daulah Abbasiyah dibagi menjadi lima periode yakni, Periode Pertama 750 M. - 847 M., yang para khalifah Abbasiyah berkuasa penuh. Periode Kedua 847 M. - 945 M. disebut periode pengaruh Turki. Periode Ketiga 945 M. - 1055 M. pada masa ini daulah Abbasiyah di bawah kekuasaan Bani Buwaihi. Periode Keempat 1055 M. dalam periode ini ditandai dengan kekuasaan Bani Saljuk atas Daulah Abbasiyah. Periode Kelima 1194 M. periode ini khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan dinasti tertentu, mereka merdeka berkuasa akan tetapi hanya di Baghdad dan periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah adalah tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Sebenarnya zaman keemasan Bani Abbas telah dimulai sejak pemerintahan Khalifah Abu Ja’far al-Mansur serta pada masa Khalifah al-Mahdi 775-785 M., akan tetapi popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya pada masa khalifah Harun al-Rashid 786-809 M. dan putranya al-Ma’mun 813-833 M.. Kekayaan banyak dimanfaatkan Harun al-Rashid untuk keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian- pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Frangky Sulaiman, Peradilan Bani Abbassiyah, Jurnal Ilmiah Asyir’ah, IAIN Manao, Volume 14 Nomor 1, Edisi 2016 Departemen Agama Republik Indonesia, Ensiklopedi Islam I Jakarta Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997,h. 7-9 Rosanti Salsabila Volume 1, Nomor 1, November 2021 Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. Khalifah-khalifah Bani Abbas secara terbuka mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan dengan mendatangkan naskah- naskah kuno dari berbagai pusat peradaban sebelumnya untuk kemudian diterjemahkan, diadaptasi dan diterapkan di Dunai Islam. Para ulama’ muslim yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan baik agama maupun non agama juga muncul pada masa ini. Perkembangan pesat peradaban juga didukung oleh kemajuan ekonomi imperium yang menjadi penghubung Dunia Timur dan Barat. Stabilitas politik yang relatif baik terutama pada masa Abbasiyah awal ini juga menjadi pemicu kemajuan peradaban Islam. Pendidikan Pada Masa Bani Abbasiyah Pendidikan adalah bagian terpenting yang tidak dapat dibedakan dari latihan kehidupan manusia di dunia ini. Pendidkan diakui sebagai kekuatan yang dapat menawarkan bantuan orang mencapai kemegahan dan kemajuan peradaban. Orang tidak akan dapat menciptakan budaya mereka dengan sempurna jika tidak didukung oleh Islam mengalami puncak kejayaannya selama periode Abbassiyah. Kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat maju dimulai dengan penafsiran tulisan-tulisan jarak jauh, terutama yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, dasar dari pusat peningkatan ilmu pengetahuan dan perpustakaan serta penataan sekolah yang logis dan taat sebagai hasil dari kesempatan berpikir. Garis Abbassiyah adalah garis Islam yang paling berhasil dalam membangun peradaban Islam. Para ahli sejarah tidak mempersoalkan hasil karya para pakar di tengah kaidah tradisi Abbasiyah dalam memajukan ilmu dan peradaban Asrohah, Sejarah Pendidikan IslamCet. I Jakarta Logos, 1990, hal. 9 Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai IndonesiaCet. I; Jakarta Kencana Group, 2007, hal. 5 A. Najili Aminullah, Dinasti Abbassiyah, Politik, Peradaban dan Intelektual, Jurnal Pendidikan Islam, IAIN SMH Banten, Volume 2, Nomor 3, Edisi 2018 Rosanti Salsabila ALSYS Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan Kita dapat melihat karakter guru dalam instruksi sempurna yang didambakan oleh darah biru Timur Tengah dari perintah al-Rashid hingga pendidik individu putranya, al-Amin “Jangan terlalu kejam sehingga membahayakan kecerdasan dan tubuhnya, dan jangan terlalu lemah sehingga dia terpeleset dan menutup mulut dengan sikap apatis. Setujui langsung kemampuan Anda dengan cara yang baik dan halus, tetapi jangan ragu untuk bersikap tegas dan tegas saat dia tidak memperhatikan atau mengabaikan Anda.”Kemajuan pendidikan Islam sangat erat kaitannya dengan sejarah Islam, karena metode pengajaran Islam telah berlangsung sepanjang sejarah Islam, dan telah tercipta sejalan dengan peningkatan sosial budaya umat Islam. Melalui sejarah Islam pula, umat Islam dapat meniru pola ajaran Islam di masa lalu, sejak masa Nabi Muhammad SAW, sahabat dan ulama beberapa waktu kemudian. Pakar sejarah mengatakan bahwa beberapa waktu belakangan ini perkembangan sekolah dan perguruan tinggi, sebagai pendidikan instruktif formal, dalam dunia Islam, ajaran Islam nonformal benar-benar tercipta, termasuk seperti etika dan strategi sosial yang berkembang dalam peradaban Islam. Bagaimanapun, peradaban Islam telah memberikan kontribusi yang sangat besar di berbagai bidang, terutama bagi dunia Barat, yang saat ini diterima sebagai pusat peradaban dunia. Komitmen utama ini meliputi 1 Di tengah-tengah abad ke-12 dan sebagian abad ke-13, karya-karya Muslim dalam bidang penalaran, sains, dll. Ditafsirkan ke dalam bahasa Latin, khususnya dari bahasa Spanyol. Penafsiran ini tidak diragukan lagi telah meningkatkan program pendidikan instruktif di dunia Barat. 2 Serli Mahroes, Kebangkitan pendidikan Bani Abbassiyah Perspektif Sejarah Pendidikan Islam, Jurnal Tarbiyah, UIN Sunan Gunung Jati, Volume 1 Nomor 1, Edisi 2015 Masjudin dan Selamet Ridwan, Pola dan Perkembangan Pendidikan Islam pada Masa Dinati Abbasiyah, Jurnal Ta’dib, UIN Malang, Volume 15 Nomor 2, Edisi 2017 Rosanti Salsabila Volume 1, Nomor 1, November 2021 2 Muslim telah membuat uji komitmen terhadap strategi dan hipotesis sains di dunia Barat. 3 Dokumentasi bahasa Arab dan kerangka desimal pada saat yang sama disajikan ke dunia barat. 4 Karya-karya dalam kerangka penerjemahan, khususnya karya-karya Ibnu Sina Ibnu Sina di bidang pengobatan, dimanfaatkan sebagai tulisan dalam ajaran perguruan tinggi hingga pertengahan abad ke-17 M. 5 Peneliti Muslim dengan karya-karyanya yang berbeda-beda telah menyemarakkan kebangkitan. Tujuan Pendidikan Pada Dinasti Abbassiyah Tujuan pendidikan pada dinasti Abbassiyah adalah tujuan yang akan dicapai dalam usaha pendidikan, satu-satunya konsep tujuan instruktif adalah mengubah apa yang instruktif mempersiapkan kebutuhan dan upaya, baik dalam perilaku individu maupun kehidupan yang menggabungkan perspektif pribadi, sosial dan tersebut dapat diringkas sebagai berikut a Tujuan keagamaan dan etika Seperti pada jaman dulu, anak-anak diajar untuk membaca atau menghafal Alquran, hal ini seringkali merupakan komitmen dalam beragama, sehingga mereka mengikutinya setelah hikmah yang taat dan beretika. menyetujui agama. b Tujuan komunitas Pemuda pada saat itu ditelaah dan dipertimbangkan agar mereka dapat mengubah dan memajukan masyarakat, dari masyarakat yang penuh kebodohan menjadi masyarakat yang memancarkan informasi, dari masyarakat yang menarik diri menuju masyarakat yang maju dan makmur. Untuk mencapai itu, informasi yang Wasito, Pendidikan Islam dan Peradaban Dunia dalan Kajian Daulah Abbassiyah, Jurnal Pendidikan Islam, IAIT Kediri, Volume 26 Nomor 1, Edisi 2015 Oemar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta Bulan Bintang, 1979, hlm 398-399. Rosanti Salsabila ALSYS Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan diajarkan di madrasah tidak seperti ilmu agama dan bahasa arab, justru informasi umum yang berharga diajarkan untuk kemajuan masyarakat. c Cinta Ilmu Masyarakat pada waktu itu belajar untuk mengantisipasi apa-apa selain dari pada menyebarkan informasi. Mereka pindah ke seluruh negeri Muslim untuk mempertimbangkan meskipun perjalanan hati-hati yang biasanya dilakukan dengan berjalan kaki atau mengendarai keledai. Tujuan mereka tidak lain adalah memenuhi kebutuhan mereka menuntut ilmu. d Tujuan materi Pada saat itu mereka sedang mempertimbangkan untuk mencari nafkah yang layak dan pangkat yang tinggi, memang jika mungkin mendapatkan kemegahan dan kekuasaan di dunia ini, seperti beberapa hal yang ditunjukkan di masa sekrang Pendidikan Dasar Kuttab pada Masa Daulah Abbasiyah Harus diakui, lembaga-lembaga pendidikan pada masa Abbasiyah terdiri dari lembaga pendidikan yang sudah lama terbentuk bahkan sejak masa Rasulullah maupun lembaga pendidikan hasil bentukan penguasa Abbasiyah. Kuttab misalnya sudah ada sejak masa Rasulullah. Bahkan jauh sebelum itu, kuttab telah ada di Negeri Arab sebelum datangnya agama Islam, tetapi belum begitu dikenal. Dalam bentuk awalnya, tempat ini hanya berupa ruangan di tempat guru. Dalam perkembangan selanjutnya dengan semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam dan semakin banyaknya orang yang pandai membaca dan menulis maka keberadaan ruang di rumah guru ini semakin terasa tidak memadai untuk menampung jumlah anak yang semakin banyak. Kondisi ini mendorong para guru dan orang tua murid untuk mencari tempat belajar yang lebih lapang dan luas untuk ketenteraman anak dalam belajar. Oleh karena itulah maka dipilih sudut-sudut masjid atau ruangan yang berhubungan dengan perkembangannya, kuttab-kuttab ini mengalami pergeseran tempat dan fungsinya. Di samping yang diadakan di mesjid, terdapat pula yang diadakan di luar masjid dalam bentuk madrasah dan dapat menampung jumlah siswa yang Mamud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta PT. Hidakarya Agung, 1990, hlm. 46 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 3 Cet. II; Jakarta Ichtiar Baru Van Hoeve, 2003, h. 86. Rosanti Salsabila Volume 1, Nomor 1, November 2021 banyak. Pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah, kuttab menjadi tempat belajar bagi pendidikan tingkat tinggi dan menengah. Hal ini berbeda dengan keberadaan pada masa sebelumnya yang fungsinya sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak6 atau lembaga pendidikan pendidikan lain yang digunakan adalah masjid. Masjid adalah suatu bangunan, gedung, atau suatu lingkungan yang dikelilingi pagar yang didirikan secara khusus sebagai tempat beribadah kepada Allah Swt, khususnya mengerjakan Fungsi masjid ini di samping untuk shalat lima waktu, shalat sunnat dan ibadah-ibadah lainnya, serta digunakan juga untuk kegitan syiar Islam, mengajarkan agama Islam, pengajian, dan kegiatan lain baik politik maupun sosial. Dalam perkembangannya, hampir semua masjid menjadi tempat halaqah, bahkan masjid dapat menyelenggarakan beberapa halaqah. Pada zaman Abbasiyah, fungsi politik masjid mulai ditinggalkan. Seluruh urusan negara diselesaikan di istana. Masjid hanya difungsikan sebagai tempat pertemuan ilmiah bagi para sarjana dan ulama, juga untuk mendalami ilmu-ilmu agama dalam berbagai mazhab. Dengan kata lain, tempat ini biasa digunakan untuk pendidikan tingkat tinggi dan untuk takhasus Madrasah juga tidak ketinggalan dalam memberikan andil pada kemajuan ilmu pengetahuan pada masa Abbasiyah. Pada masa ini lahir lembaga al-madrasah yang secara harfiah berarti "sekolah". Al-Madaris bentuk plural madrasah secara umum terdiri dari pendidikan pertama, menengah, dan tinggi. Adalah Nizamul Mulk yang mula-mula mendirikan nama madrasah. Madrasah ini diberi nama Madrasah Nizamiyah dan Madrasah Hanafiyah di dengan itu terdapat pula Madrasah Tajiyah di Baghdad, Madrasah Mustansiriah, dan Madrasah al-Nuriyah al-Qubra di Siria yang dikenal sebagai pendidikan masa ini lembaga madrasah berkembang di berbagai kota seperti Baghdad, Baikh Muro, Thabristan, Nisabur, Isfahan, Basrah, Musil dan di kota-kota besar lainnya. Lembaga lain yang didirikan pada masa Abbasiyah adalah Soekarna Karya, Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam Cet. III; Jakarta Logos Wacana Ilmu, 1996, h. 75. Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modemisasi Menuju Milenium Baru Jakarta Logos Wacana Ilmu, 2002, h. 23. Rosanti Salsabila ALSYS Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan Bait alHikmah. Lembaga telah dirintis sejak masa Khalifah Harun al-Rasyid, kemudian diteruskan dan disempurnakan oleh Khalifah al-Makmun14 . Keberadaan Bait al-Hikmah sebagai lembaga pendidikan Islam sangat penting pada masa Abbasiyah. Lembaga ini merupakan tempat belajar terbesar, di dalamnya terdapat sebuah perpustakaan yang sangat lengkap, ruang-ruang untuk belajar, tempat tinggal para penerjemah, tempat-tempat pertemuan para ilmuan untuk mengadakan diskusi-diskusi ilmiah, juga tempat untuk pengamatan bintang. Lembaga ini didirikan di samping sebagai lembaga penerjemahan karya-karya kuno dari bahasa Yunani dan Suriah ke dalam bahasa Arab juga sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Menurut Azyumardi Azra, Bait al-Hikmah adalah semacam lembaga riset untuk pengembangan lembaga-lembaga pendidikan tersebut, ada juga tempat belajar khusus seperti istana khalifah dan pembesar-pembesar, toko-toko buku, rumah-rumah ulama, majelis sastra, badiah Dusun Badwi, perpustakaan, ribath dan rumah Pendidikan Masa Dinasti Abbasiyah Tak dapat disangkal, metode merupakan salahsatu cara yang digunakan pendidik agar pelajaran yang disajikan dapat dikuasai oleh peserta didik. Salahsatu metode yang sering digunakan adalah halaqah. Halaqah menurut Nakosteen dalam Soekarna Karya, adalah sistem kegiatan proses perkuliahan di madrasah di mana Syaikh duduk di dekat dinding atau pilar yang memungkinkan untuk bersandar dan mahasiswa duduk di depannya membentuk setengah lingkaran. Mahasiswa yang lebih pintar atau lebih tinggi pengetahuannya duduk dekat dengan Syaikh. Hal ini memungkinkan tumbuhnya motivasi untuk meraih kedudukan mulia itu dengan belajar lebih keras. Setiap halaqah maksimal 20 orang. Sedangkan proses halaqah terdiri dari 4 langkah. Langkah pertama; Syaikh membuka halaqah dengan didahului doa. Langkah kedua; Syaikh mengemukakan komentar atas topik, tema atau pokok bahasan tertentu. Langkah ketiga; imlak atau dikte dengan penjelasan dari Syeikh. Langkah Azyumardi Azra, op. cit., h. 23. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam Cet VII; Jakarta Hidakarya Agung, 1992, h. 81 Rosanti Salsabila Volume 1, Nomor 1, November 2021 keempat; diskusi. Pada langkah ini mahasiswa didorong untuk bertanya dan mengemukakan pendapat dengan bebas sehingga sering terjadi perbedaan pandangan antara Syeikh dan mahasiswa. Langkah kelima; Syaikh memeriksa catatan/kesimpulan yang dibuat mahasiswa, memberi anjuran untuk baca kitab, dan sebagainya. Perkembangan Pendidikan pada Masa Dinasti Abbasiyah Masa pemerintahan Daulah Abbasiyah merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai bidang. Kemajuan yang paling mencolok terjadi pada bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kajian-kajian kritis tentang ilmu pengetahuan banyak dilakukan sehingga ilmu pengetahuan baik yang aqliah maupun naqliah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tak dapat disangkal, majunya perkembangan ilmu pengetahuan saat itu karena faktor keinginan dan campurtangan penguasa yang secara intensif menaruh perhatian yang sering terhadap karya-karya hasil peradaban. Di samping itu, adanya dukungan penuh dari para hartawan bahkan orang lemah sekalipun. Oleh karena itu, para hartawan, Raja-raja, Pangeran-pangeran dan lapisan lain dalam masyarakat menyerahkan istana dan gedung mereka untuk dijadikan pusat kebudayaan yang dilengkapi dengan perpustakaan yang menghimpun ratusan buku. Untuk merealisasikan keinginan-keinginan para penguasa maka didirikanlah lembaga-lembaga pembangunan peradaban dan kebudayaan Islam menjadi perhatian dari Daulah ini ketimbang perluasan wilayah sebagaimana Daulah terdahulu. Oleh karena itu, berbagai hasil peradaban dunia mewarnai dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan Islam. Kebudayaan Persia datang dengan tradisi keilmuan dan pemerintahan. Bahkan banyak penulis Persia mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Abu Hanifah mempelopori bidang hukum Islam, Sibawaih dengan gramatika dan al-Kisa'i di bidang qira'at. India memperkaya khazanah Islam dengan ilmu kedokteran, ilmu perbintangan, dan matematika. Sedangkan Yunani paling banyak mempengaruhi khazanah peradaban Islam Jundisapur dalam bidang Fuad Mohd. Fachruddin, Perkembangan Kebudayaan Islam Jakarta Bulan Bintang, 1985, h. 87. Rosanti Salsabila ALSYS Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan kedokteran, Iskandariyah dalam bidang filsafat, Harran dalam bidang filsafat dan ilmu ilmu pengetahuan pada masa ini melahirkan berbagai gerakan ilmiah. Di samping gerakan penterjemahan, pusat-pusat ilmu pengetahuan juga dibuka di berbagai kota, Ilmu-ilmu dipelajari dan dikaji. Oleh karena itu, tidak heran pada masa ini lahirlah para filosof muslim Abu Ishak al-Kindi dengan ilmu mantiq, filsafat, handasah, hisab, musik, nujum, dan lain-lain; Abu Nashr Muhammad bin Muhammad Tharkhan al-Farabi dengan 12 buku karangannya al-Rais Abu al-Husain bin Abdullah atau Ibnu Sina yang menghidupkan jejak filsafat Aristoteles dan Plato serta terkenal dengan ilmu aqli; Abu Bakar Muhammad bin Yahya atau Ibnu Bajah, Abu Bakar bin Abdul Malik bin Thufail; Ibnu Rusyd dan al-Abhary. Mereka mengembangkan ilmu yang berhubungan dengan filsafat. Di bidang astronomi perkembangannya juga sangat pesat, ilmu falak dan ilmu nujum bintang memegang peranan penting dalam menentukan garis politik oleh para khalifah dan amir yang mendasarkan perhitungan kerjanya pada peredaran bintang. Di antara yang termashur antara lain Abu Manshur al-Falaky dengan karyanya Isbat al-Ulum dan Hai'at al-Falak; Jabir Batany menciptakan alat peneropong bintang ajaib; Abu Hasan dan Raihan Bairuny. Bidang kedokteran Islam mengalami puncak tertinggi dan telah melahirkan dokter terkenal. Mereka antara lain Ibnu Miskawaihi yang memiliki karya kedokteran yang tidak sedikit jumlahnya, Ibnu Sahal pengarang buku Thib dan farmasi sekaligus sebagai direktur Rumah Sakit Jundaisabur; Abu Bakar al-Razy ketua dokter-dokter Rumah Sakit di Baghdad, bahkan karangannya tentang kedokteran bernilai tinggi sampai sekarang; Ali bin Abas dokter pribadi Abdul al-Daulah al-Buwaihi; dan Ibnu Sina seorang filosof dan dokter yang sangat canggih dan masyhur. Kajiankajian keilmuan pada masa ini juga melingkupi bidang sastra, ilmu pasti, kimia dan ilmu sejarah. Yang tidak kalah menarik akibat penerjemahan-penerjemahan ilmu ke dalam bahasa Arab, juga telah melahirkan kemajuan di bidang ilmu agama Islam. Paling tidak, sebagian ilmu-ilmu Islam telah mengalami perubahan, perkembangan dan kemajuan pesat. Dalam bidang tafsir misalnya, sejak awal dikenal dua metode Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, h. 6-7 Rosanti Salsabila Volume 1, Nomor 1, November 2021 penafsiran, yaitu Tafsir bi al-Matsur dan Tafsir bi alRa'yi. Yang disebut kedua ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Demikian pula pada ilmu fiqh terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika sangat mempengaruhi kedua ilmu ini baik fiqh maupun tafsir. Di samping itu, muncul pula imamimam ahli fiqh semisal Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hambal. Bahkan para ahli tafsir dan hadis juga bermunculan. Imam Bukhary, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, alTirmizi, al-Nasa'i, al-Naisabury, al-Razi, al-Ajiry, dan al-Baihaqy merupakan representasi imam-imam hadis yang rela menghabiskan umurnya dengan tekun mempelajari dan mengarang ilmu hadis. Demikian pula para mufassirin yang terdiri dari golongan ahli tafsir bi al-matsur al-Thabary, Ibnu Athiyah, al-Suda'i, Mupati bin Suleman, dan Muhammad bin Ishak. Sedangkan dari golongan ahli tafsir bi al-ra'yi adalah Abu Bakar. Perkembangan Pendidikan Islam Zaman Modern Dalam perkembangan selanjutnya, terutama setelah memasuki abad ke19 masehi, dunia Islam memasuki abad kebangkitan dan kemodernan. Semangat kebangkitan ini didorong oleh dua faktor, yaitu 1. Alquran mendorong manusia untuk berpikir dan mengadakan perenungan, bahkan menyuruh manusia untuk memikirkan dan mengeluarkan rahasia yang ada dalam alam semesta ini. 2. Adanya dorongan kemajuan berupa perkembangan IPTEK ilmu pengetahuan dan teknologi yang memasuki dunia Islam. Hal itu dilatarbelakangi oleh adanya kontak antara dunia Islam dengan dunia Barat, yang selanjutnya membawa ide baru, seperti rasionalisme dan pembaharuan yang menjadi perhatian para pemikir Islam, di antaranya ialah pemurnian tauhid, politik, ekonomi, sosial budaya, kemiliteran, sains dan teknologi, emansipasi wanita, serta sistem Pendidikan. Philip K. Hitty, History of the Arabs London The Machmillan Press, 1970, h, 324. Rosanti Salsabila ALSYS Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan Tampaknya, pemikiran pembaharuan tentang sistem pendidikan, selalu mendapat perhatian dari setiap pemikir pembaharu. Hal ini disebabkan oleh adanya pendidikan itu merupakan arena studi yang tidak pernah kering, karena masalah pokok yang menjadi pembahasannya adalah mengenai manusia dengan segala aspeknya. Di samping itu, jalan untuk mencapai tujuan pemikiran dilakukan, baik melalui pendidikan formal maupun non-formal. Gerakan kebangkitan kembali dunia Islam, telah menjalar ke Indonesia, termasuk pelaksanaan pendidikan Islam. Pertumbuhan pendidikan Islam di Indonesia, dapat diketahui dengan menelusuri sejarahnya sejak zaman kedatangan Islam sampai sekarang. Harun Nasution menyebutkan bahwa pada zaman kolonial Belanda, tersedia beraneka ragam bagi orang Indonesia untuk memenuhi kebutuhan berbagai lapisan masyarakat. Ciri khas dari sekolah-sekolah itu ialah tidak adanya hubungan yang baik di antaranya. Namun lambat laun, sekolahsekolah yang terpisah itu terjalin hubungan yang erat, sehingga terdapat suatu sistem yang menunjukkan perkembangan selanjutnya, sistem pendidikan Islam semakin berkembang dan terpadu. Hal ini ditandai oleh masuknya ilmu agama pada sekolah-sekolah umum dan masuknya ilmu-ilmu umum pada madrasahmadrasah, bahkan pada perkembangan terakhir telah lahir beberapa madrasah dan pondok pesantren modern. Perlunya sarana pendidikan Islam, diperuntukkan bagi sebagian masyarakat Islam yang ingin mempelajari agamanya secara mendalam. Tentang hal ini, telah ditegaskan dalam Islam adalah pendidikan yang sangat ideal, yaitu menyelaraskan antara pertumbuhan fisik dan psikhis, jasmani dan rohani, pengembangan individu dan masyarakat, serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jakarta UI-Perss, 1978, h. 78. 122 menyebutkan bahwa, “… Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama …”. Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya Jakarta Proyek Pengadaan Kitab Suci AlQur’an, 1985/1986, h. 301-302. Rosanti Salsabila Volume 1, Nomor 1, November 2021 Pendidikan Islam merupakan usaha yang dilakukan secara sadar dengan membimbing dan mengasuh peserta didik agar dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam. Karenanya, peningkatan sumber daya manusia tetap berkesinambungan dengan peningkatan kualitas iman dan takwa, kualitas ibadah, kualitas ilmu dan teknologi, serta kualitas zikir dan doa kepada Allah Swt. Konsep pendidikan seperti itulah yang dilaksanakan pada zaman klassik Islam, sehingga umat Islam pada saat itu menjadi umat yang maju dalam ilmu agama dan sains, bahkan pernah menjadi umat yang adikuasa DAFTAR PUSTAKA A. Najili Aminullah, Dinasti Abbassiyah, Politik, Peradaban dan Intelektual, Jurnal Pendidikan Islam, IAIN SMH Banten, Volume 2, Nomor 3, Edisi 2018 Azyumardi Azra, op. cit., Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modemisasi Menuju Milenium Baru Jakarta Logos Wacana Ilmu, 2002 Budiyati dan Anisa Dwi Makrufi, Peradaban Islam Periode Daulah Abbasiyah Dalam Meningkatkan Minat Membaca Masyarakat, Jurnal Pendidikan Islam, FITK UIN Malang, Volume 3 Nomor 2, Edisi Januari 2019. Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 3 Cet. II; Jakarta Ichtiar Baru Van Hoeve, 2003 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Frangky Sulaiman, Peradilan Bani Abbassiyah, Jurnal Ilmiah Asyir’ah, IAIN Manao, Volume 14 Nomor 1, Edisi 2016 Fuad Mohd. Fachruddin, Perkembangan Kebudayaan Islam Jakarta Bulan Bintang, 1985 Fuad Riyadi, Perpustakaan Bayt Al-Hikmah, “The Golden Age Off Islam”, Jurnal Libraria, STAIN Kudus, Volume 2, Nomor 1, Edisi 2014 Harun Asrohah, Sejarah Pendidikan IslamCet. I Jakarta Logos, 1990 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jakarta UI-Perss, 1978 Hoeve, 1997 Kaelan, metode penelitian kualitatif interdispliner, Yogyakarta , Indonesia Pradigma, 2010, Mahfud Ifendi, Dinasti Abbasiyah Studi Analisis Lembaga Pendidikan Islam, Jurnal Fenomena, STAI Sanggatta Kutai Timur, Volume 12 Nomor 2, Edisi 2020 Rosanti Salsabila ALSYS Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam Cet VII; Jakarta Hidakarya Agung, 1992, Mamud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta PT. Hidakarya Agung, 1990, Masjudin dan Selamet Ridwan, Pola dan Perkembangan Pendidikan Islam pada Masa Dinati Abbasiyah, Jurnal Ta’dib, UIN Malang, Volume 15 Nomor 2, Edisi 2017 Nunzairina, Dinati Abbasiyah kemajuan peradaban islam, pendidikan dan kebangkitan kaum intelektual, jurnal sejarah peradaban islam, Fakultas Ilmu Sosial, UIN Sumatera Utara, Volume 3 Nomor, Edisi Januari 2020 Oemar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta Bulan Bintang, 1979 Philip K. Hitty, History of the Arabs London The Machmillan Press, 1970 122 menyebutkan bahwa, “… Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama …”. Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya Jakarta Proyek Pengadaan Kitab Suci AlQur’an, 1985/1986 Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai IndonesiaCet. I; Jakarta Kencana Group, 2007 Serli Mahroes, Kebangkitan pendidikan Bani Abbassiyah Perspektif Sejarah Pendidikan Islam, Jurnal Tarbiyah, UIN Sunan Gunung Jati, Volume 1 Nomor 1, Edisi 2015 Soekarna Karya, Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam Cet. III; Jakarta Logos Wacana Ilmu, 1996 Wasito, Pendidikan Islam dan Peradaban Dunia dalan Kajian Daulah Abbassiyah, Jurnal Pendidikan Islam, IAIT Kediri, Volume 26 Nomor 1, Edisi 2015 ResearchGate has not been able to resolve any citations for this WasitoDinasti Abbasiyah adalah dinasti terlama dalam sejarah peradaban Islam setelah dinasti Umayyah. Sekitar lebih dari 5 abad, dan juga merupakan dinasti yang mengantarkan Islam pada masa keemasan-nya. Dinasti Abbasiyah juga merupakan dinasti Islam yang paling berhasil dalam mengembangkan peradaban Islam. Namun demikian, tidak dipungkiri bahwa pemerintah Abbasiyah merupakan pemrintah yang komplek, seperti permasalahan politik yang dihadapinya yaitu permasalahan kudeta, penmbrontakan dan juga pembentukan dinasti-dinasti baru. Awalnya, Abbasiyah merupakan pemimpin tunggal di daerah AzraPendidikan IslamAzyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modemisasi Menuju Milenium Baru Jakarta Logos Wacana Ilmu, 2002Frangky SulaimanPeradilan Bani AbbassiyahFrangky Sulaiman, Peradilan Bani Abbassiyah, Jurnal Ilmiah Asyir'ah, IAIN Manao, Volume 14 Nomor 1, Edisi 2016Fuad RiyadiPerpustakaan Bayt Al-HikmahFuad Riyadi, Perpustakaan Bayt Al-Hikmah, "The Golden Age Off Islam", Jurnal Libraria, STAIN Kudus, Volume 2, Nomor 1, Edisi 2014Sejarah Pendidikan Islam Cet VIIMahmud YunusMahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam Cet VII; Jakarta Hidakarya Agung, 1992,kemajuan peradaban islam, pendidikan dan kebangkitan kaum intelektual, jurnal sejarah peradaban islamDinati NunzairinaAbbasiyahNunzairina, Dinati Abbasiyah kemajuan peradaban islam, pendidikan dan kebangkitan kaum intelektual, jurnal sejarah peradaban islam, Fakultas Ilmu Sosial, UIN Sumatera Utara, Volume 3 Nomor, Edisi Januari 2020Kebangkitan pendidikan Bani Abbassiyah Perspektif Sejarah Pendidikan IslamSerli MahroesSerli Mahroes, Kebangkitan pendidikan Bani Abbassiyah Perspektif Sejarah Pendidikan Islam, Jurnal Tarbiyah, UIN Sunan Gunung Jati, Volume 1 Nomor 1, Edisi 2015 Pendidikan pada Zaman Dinasti Abbasiyah BAB I PENDAHULUAN Berkembangnya pendidikan Islam erat kaitannya dengan sejarah Islam, karena proses pendidikan Islam telah berlangsung sepanjang sejarah Islam, dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya umat Islam. Melalui sejarah Islam pula, umat Islam bisa meniru pola pendidikan Islam pada masa lalu, sejak periode Nabi Muhammad SAW, sahabat dan ulama’ setelahnya. Islam mengalami kemajuan dalam bidang pendidikan, terutama pada masa Dinasti Abbasiyah. yang ditandai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan madrasah-madrasah sekolah-sekolah formal serta universitas-universitas dalam berbagai pusat kebudayaan Islam. Berbagai ilmu pengetahuan yang berrkembang melalui lembaga pendidikan itu sangat dominan pengaruhnya dalam membentuk pola kehidupan dan budaya kaum muslimin. Maka dari itu, dalam makalah ini penulis akan membahas tentang pendidikan pada zaman dinasti Abbasiyah. one. Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah? 2. Apa saja tujuan pendidikan pada masa Dinasti Abbasiyah? three. Apa saja lembaga pendidikan yang ada pada masa Dinasti Abbasiyah? 4. Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah? one. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah 2. Untuk mengetahui tujuan pendidikan pada masa Dinasti Abbasiyah 3. Untuk mengetahui lembaga pendidikan yang ada pada masa Dinasti Abbasiyah 4. Untuk mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah BAB 2 PEMBAHASAN A. Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah, sebagaimana disebutkan, melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah, dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw. [1]Dengan dasar pemikiran bahwa kekuasaan harus berasal dari keturunan yang berhubungan dengan Nabi Muhammad SAW, maka Abu Al-abbas Al Saffah yang di dukung oleh seorang panglima yang gagah perkasa, Abu Muslim al- Khurasani serta berbagai kelompok pemberontak, seperti kaum syiah, oposisi pimpinan al-mukhtar, dan lainnya, berhasil mengalahkan khalifah Bani Umayyah terakhir, yaitu Khalifah Marwan Ii pada tahun 750 One thousand/ 132 H. Dengan demikian, maka berdirilah Dinasti Abbasiyah. [2] Dibandingkan dengan dinasti islam lainnya, dinastti Abbasiyah tergolong yang paling lama berkuasa, yaitu mulai dari Abu al-Abbas Assaffah di tahun 750 G sampai dengan Al- Mu’tasim di tahun 1258. Dalam kurun waktu selama lebih dari lima abad tersebut, kepemimpinan dinasti Abbasiyah di pegang oleh lebih dari 37 khalifah. Namun dari 37 orang khalifah Bani Abbas tersebut ada lima khalifah yang paling terkenal, yaitu Abu al- Abbas al- Saffah, Abu Ja’far al- Mansur, al- Mahdi, Harun al- Rasyid, dan al- ma’mun. [three] B. Tujuan Pendidikan pada Masa Dinasti Abbasiyah Pada masa Nabi, masa khulafaur rasyidin dan bani umayah, tujuan pendidikan satu saja, yaitu keagamaan semata. Mengajar dan belajar karena Allah dan mengharap keridhoan-Nya. Namun pada masa abbasiyah tujuan pendidikan itu telah bermacam-macam karena pengaruh masyarakat pada masa itu. Tujuan itu dapat disimpulkan sebagai berikut 1. Tujuan keagamaan dan akhlaq Sebagaiman pada masa sebelumnya, anak-anak dididik dan diajar membaca atau menghafal Al-Qur’an, ini merupakan suatu kewajiban dalam agama, supaya mereka mengikut ajaran agama dan berakhlak menurut agama. Para pemuda pada masa itu belajar dan menuntut ilmu supaya mereka dapat mengubah dan memperbaiki masyarakat, dari masyarakat yang penuh dengan kejahilan menjadi masyarakat yang bersinar ilmu pengetahuan, dari masyarakat yang mundur menuju masyarakat yang maju dan makmur. Untuk mencapai tujuan tersebut maka ilmu-ilmu yang diajarkan di Madrasah bukan saja ilmu agama dan Bahasa Arab, bahkan juga diajarkan ilmu duniawi yang berfaedah untuk kemajuan masyarakat. [4] three. Cinta akan ilmu pengetahuan Masyarakat pada saat itu belajar tidak mengaharapkan apa-apa selain dari pada memperdalam ilmu pengetahuan. Mereka merantau ke seluruh negeri islam untuk menuntut ilmu tanpa memperdulikan susah payah dalam perjalanan yang umumnya dilakukan dengan berjalan kaki atau mengendarai keledai. Tujuan mereka tidak lain untuk memuaskan jiwanya yang haus akan ilmu pengetahuan. Pada masa itu mereka menuntut ilmu supaya mendapatkan penghidupan yang layakdan pangkat yang tinggi, bahkan kalau memungkinkan mendapat kemegahan dan kekuasaan di dunia ini, sebagaimana tujuan sebagian orang pada masa sekarang ini. [5] C. Lembaga- lembaga Pendidikan pada Masa Dinasti Abbasiyah Selain masjid, kuttab, al- badiah, istana, perpustakaan, dan al-bimaristan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, pada zaman dinasti Abbasiyah ini telah berkembang pula lembaga pendidikan berupa toko buku, rumah para ulama, sanggar sastra, madrasah, perpustakaan dan observatorium, al-ribath, dan az-zawiah. 1. Al- Hawanit al- Warraqien Toko Buku Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa pada zaman Abbasiyah merupakan puncak kejayaan islam dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan tersebut mendorong lahirnya para pengarang, dan lahirnya para pengarang mendorong lahirnya industri perbukuan, dan industri perbukuan mendorong lahirnya toko- toko buku. Di beberapa kota atau negara yang di dalamnya terdapat toko- toko buku, menggambarkan bahwa kota atau negara tersebut telah mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan. [6] two. Rumah-rumah para ulama ahli ilmu pengetahuan Walaupun sebelumnya ruumah bukanlah merupakan tempat yang baik untuk tempat memberikan pelajaran namun pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaaan Islam, banyak juga rumah-rumah para ulama dan para ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal itu pada umumnya disebebkan karena para ulama dan ahli yang bersangkutan yang tidak mungkin memberikan pelajaran dimesjid, sedangkan pelajar banyak yang berminat untuk mempelajari ilmu pengetahuan dari padanya. Diantara rumah ulama terkenal yang menjadi tempat belajar adalah rumah Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ali Ibnu Muhammad Al-Fasihi, Ya’qub Ibnu Killis, Wazir Khalifah Al-Aziz billah Al-Fatimy, dan lain-lainnya. [vii] iii. Al- Sholun al- Adabiyah Sanggar Sastra Al- Sholun al- Adabiyah sanggar sastra ini mulai tumbuh sederhana pada masa pemerintah Bani Umayyah, kemudian berkembang pesat pada zaman Abbasiyah, dan merupakan perkembangan lebih lanjut dari perkumpulan yang ada pada zaman khulafaurrasyidin. Hal ini sejalan dengan kebiasaan khalifah pada zaman islam yang biasanya merencanakan plan dalam urusan yang bersifat duniawi, namun meminta fatwa dari segi agama. Dan atas dasar ini, maka diantara syarat yang terpenting dari seorang khalifah adalah memiliki ilmu yang dibutuhkan untuk berijtihad. Secara harfiah madrasah berarti tempat belajar. Adapun dalam pengertian yang lazim digunakan, madrasah adalah lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah yang mengajarkan ilmu agama dan ilmu lainnya dengan menggunakan sistem klasikal. Dalam sejarah, madrasah ini mulai muncul di zaman khalifah Bani Abbas, sebagai kelanjutan dari pendidikan yang dilaksanakan di masjid dan di tempat lainnya. five. Perpustakaan dan Observatorium Dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan yang terjadi di zaman Abbasiyah, maka didirikan pula perpustakaan, observatorium, serta tempat penelitian dan kajian ilmiah lainnya. Tempat- tempat ini juga digunakan sebagai tempat belajar mengajar dalam arti yang luas, yaitu belajar bukan dalam arti menerima ilmu dari guru sebagaimana yang umum dipahami, melainkan kegiatan belajar yang bertumpu pada aktivitas siswa, seperti belajar dengan cara memecahkan masalah, eksperimen, belajar sambil bekerja, dan penemuan. Kegiatan belajar yang demikian itu dilakukan bukan hanya di kelas, melainkan di lembaga- lembaga pusat kajian ilmiah. Tempat- tempat belajar yang demikian itu telah tumbuh di zaman khalifah Abbasiyah. [8] Secara harfiah al- ribath berarti ikatan yang mudah dibuka. Sedangkan dalam arti yang umum, al-ribath adalah tempat untuk melakukan latihan, bimbingan, dan pengajaran bagi calon sufi. Di dalam al-ribath tersebut terdapat berbagai ketentuan atau komponen yang terkait dengan pendidikan tasawuf, misalnya komponen guru yang terdiri dari syekh guru besar, mursyid guru utama, mu’id asisten guru, dan mufid fasilitator. Murid pada al-ribath dibagi sesuai dengan tingkatannya, mulai dari ibtidaiyyah, tsanawiyah, dan aliyah. Adapun bagi yang lulus diberikan pengakuan berupa ijazah. Az-zawiah secara harfiah berarti sayap atau samping. Sedangkan dalam arti yang umum, az-zawiah adalah tempat yang berada di bagian pinggir masjid yang digunakan untuk melakukan bimbingan wirid, dan zikir untuk mendapatkan kepuasan spiritual. Dengan demikian, az-zawiah dan al- ribath fungsinya sama, namun dari organisasinya al-ribath lebih khusus dari pada az-zawiah. [9] D. Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa Dinasti Abbasiyah Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang sangat peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Upaya ini mendapat tanggapan yang sangat baik dari para ilmuwan. Sebab pemerintahan dinasti abbasiyah telah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. Diantara fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah seperti baitul hikmah, majelis munadzarah dan pusat-pusat study lainnya. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa dinasti bani abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. Para penerjemah tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani, Romawi, Persia, Syiuria tetapi juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran. Diantara tokoh yang member andil dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah Al-Kindi, Abu Nasr al-Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah, pada masa itu telah didirikan apotek pertama di dunia, dan juga telah didirikan sekolah farmasi. Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan Ibnu Sina. [10] Ilmu kimia juga termasuk salah satu ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh kaum muslimin. Mereka melakukan pemeriksaan dari gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan untuk mencari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan diantara tokoh kimia yaitu Jabir bin Hayyan, ia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi, dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak. [xi] Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan abbasiyah adalah ilmu hisab atau matematika. Ilmu ini berkembang karena kebutuhan dasar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus dihitung dengan tepat, supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagainya. Tokohnya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Pada masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu, misalnya sejarah hidup nabi Muhammad. Ilmuwan dalam bidang ini adalah Muhammad bin Sa’ad, Muhammad bin Ishaq. Ahli ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi, yang terkenal pada abad ke-ix M, khususnya dalam studynya mengenai bidang kawasan arab. Astronomi adalah ilmu yang mempelajari perjalanan matahari, bumi, bulan dan benda-benda angkasa. Tokoh astronomi Islam pertama adalah Muhammad al-fazani dan dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang pergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Selain al-Fazani banyak ahli astronomi yang bermunculan diantaranya adalah muhammad bin Musa al-Khawarizmi al-Farghani al-Bathiani, al-biruni, Abdurrahman al-Sufi. [12] Selain ilmu pengetahuan umum dinasti abbasiyah juga memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara lain Hadis adalah sumber hukum Islam yang kedua setelah Al Qur’an. Karena kedudukannya itu, maka setiap muslim selalu berusaha untuk menjaga dan melestarikannya. Pada masa Abbasiyah, kegiatan pengkodifikasian/ pembukuan Hadits dilakukan dengan giat sebagai kelanjutan dari usaha para ulama penulisan hadis-hadis Nabi memunculkan tokoh-tokoh seperti Ibn Juraij, Malik ibn Anas, juga Rabi` ibn Sabib H dan ibn Al Mubarak due H. Al Quran adalah sumber utama dalam agama Islam. oleh karena itu semua perilaku umat Islam harus berdasarkan kepadanya, hanya saja tidak semua bangsa Arab memahami arti yang terkandung di dalamnya. Maka bangunlah para sahabat untuk menafsirkan, ada dua cara penafsiran, yaitu yang pertama, tafsir bi al ma`tsur, yaitu penafsiran Al Quran berdasarkan sanad meliputi al Qur’an dengan al Qur’an, al Qur’an dengan aL Hadits. Yang kedua, tafsir bi ar ra`yi, yaitu penafsiran Al Qur’an dengan mempergunakan akal dengan memperluas pemahaman yang terkandung didalamnya. Ahli tafsir bi al ma`tsur dipelopori oleh As Subdi H, Muqatil bin Sulaiman H, dan Muhamad Ishaq. Sedangkan tafsir bi ar ra`yi banyak dipelopori oleh golongan Mu` yang terkenal antara lain Abu Bakar al Asham H, Abu Muslim al Asfahani H dan Ibnu Jarwi al Asadi H. [xiii] Ilmu fikih dimasa Abbasiyah mengalami perkembangan yang cukup baik, ulama-ulama yang muncul pada saat itu dikenal dengan sebutan dengan “Imam Mazhab”. Karena kekuatan dan kemampuan mereka dalam menyimpulkan hukum-hukum dari berbagai masalah yang ada. Mazhab-mazhab fikih yang banyak diikuti oleh kaum muslimin di dunia yang muncul pada masa Abbasiyah adalah v Imam Abu Hanifah, karyanya Fiqhu Akbar, Al-Alim Wal Musta’an, dan Al-Masad. five Imam Malik, karyanya Kitab Al-Muwatta’, dan Al-Usul Equally-Sagir. five Imam Syafi’I, karyanya Al-Umm, Al-Isyarah, dan Usul Fiqih. v Imam Ahmad Ibnu Hambal, karyanya Al-Musnad, Jami’ Every bit-Sagir, dan Jami’ Al-Kabir. Ilmu tasawuf adalah ilmu syariat yang inti ajarannya menjauhkan diri dari kesenangan dunia dan mendekatkan diri kepada Allah. Diantara ulama ahli tasawuf adalah 5 Al-Qusyairi, karyanya Risalatul Qusyairiyah. five Syihabuddin, karyanya Awariful Ma’arif. 5 Imam Gazali, karyanya Ihya Ulumuddin. Perkembangan ilmu kalam terjadi seiring dengan genjarnya serangan orang-orang not-muslim yang ingin menjatuhkan Islam melalui olah fikir filsafat. Dan ulama yang terkenal di bidang ini adalah Hasan Al-Asyari, Washil bin Atha, dan Imam Syafi’i. [fourteen] BAB Iii PENUTUP Kekuasaan dinasti bani abbas, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti bani Umayyah. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw, dinasti ini didirikan oleh Abdullah Alsaffah Ibnu Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Al- Abbas. Tujuan pendidikan pada masa dinasti Abbasiyah yaitu tujuan keagamaan dan akhlaq, tujuan kemasyarakatan, cinta akan ilmu pengetahuan, dan tujuan kebendaan. Lembaga-lembaga pendidikan pada masa dinasti Abbasiyah diantaranya yaitu Al- Hawanit al- Warraqien Toko Buku, Rumah-rumah para ulama ahli ilmu pengetahuan, Al- Sholun al- Adabiyah Sanggar Sastra, Madrasah, Perpustakaan dan Observatorium, Al- Ribath, dan Az- zawiah. Ilmu pengetahuan pada masa dinasti Abbasiyah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Adapun ilmu pengetahuan umum yang berkembang pada masa itu antara lain filsafat, kedokteran, ilmu kimia, ilmu hisab, sejarah, ilmu bumi geografi, dan astronomi. Sedangkan ilmu agama yang juga mengalami perkembangan yaitu ilmu hadist, ilmu tafsir, ilmu fiqih, ilmu tasawuf, dan ilmu kalam. DAFTAR PUSTAKA Nata , Abuddin 2011 . Sejarah Pendidikan Islam . cetakan I. Dki jakarta Kencana Prenada Media Group. Elmisbah 10 Februari 201 vi . “ Sejarah Pendidikan Agama Islam Masa Abbasiyah ” . http// .co thou . Sajida 10 Februari 201 half-dozen . “ Sejarah Pendidikan Islam Masa Abbasiyah ”. http// sajidadotinggulo . wordpress. co thousand . x Februari 201 vi . “ Perkembangan Ilmu Pengetahuan Masa Dinasti Abbasiyah ”. http// . [ii] Ab uddin Nata , Sejarah Pendidikan Islam , c etakan I Jakarta Kencana Prenada Media Group , two 011 , halaman 1 47 [three] Ibid , halaman 147-148 [one-half-dozen] Ab uddin, Sejarah Pendidikanhalaman 151-152 [7] Sajida , “ Sejarah PendidikanIslam Masa Abbasiyah ”, [8] Ab uddin, Sejarah Pendidikanhalaman 160-161 [9] Ibid , halaman 161-162 [ten] “ Perkembangan Ilmu Pengetahuan Masa Dinasti Abbasiyah ”, http// di akses pada x Februari 201 6 . [xi] Vania Widyadhari , “ Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa Abbasiyah ”, http// widyadharivania . blogspot .co .id di akses pada x Februari 201 6 . [12] “ Perkembangan Ilmu Pengetahuan Masa Dinasti Abbasiyah ” [thirteen] Abdina , “ Pendidikan Islam Masa Abbasiyah ” [xiv] “ Tokoh Ilmuan Muslim pada Masa Abbasiyah ”, http// www . shekakau. co thousand di akses pada ten Februari 201 6 . Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pada masa dinasti Abbasiyah ini merupakan masa yang terkenal dengan masa perkembangan pendidikan. Pendidikan pada masa ini tidak terlepas dari peran besar seorang khalifah ke lima yaitu khalifah Harun Al-Rasyid. Khalifah Harus Al-Rasyid lahir di Ray pada tahun 150 Hijriah. Beliau merupakan putra daru Mahdi, yang merupakan Khalifah Abbasiyah dan ibunya adalah Khairuzan seorang ratudari Yaman. Pada masa pemerintahannya Khalifah Harun Al-Rasyid banyak berperan besar dalam pengembangan ilmu pengethuan dalam dunia pendidikan. Dibawah pemerintahan khalifah Harun Al-Rasyid, Bahgdad yang terkenal dengan toko-tokonya terus berkembang dengan adanya produksi kertas yang mulai diperkenalkan. Ini berawal dari para perajin dari China yang terampil membuat kertas sebagian menjadi tawanan yang ditangkap oleh pasukan Arab dalam perang Talas pada tahun 751 Hijriah. Sebagai tawanan mereka dikirim ke Samarkand dan disana pertama kalinya pabrik kertas di Arab. Pada akhirnya kertas menggantikan perkamen sebagai media untuk menulis dan produksi buku meningkat. Khalifah Harun sangat mendorong serta memfalitasi pembuatan buku-buku catatan. Beliau berusaha keras agar kertas dapat digunakan dalam catatan pemerintah, karena tulisan di kertas tidak dapat diubah atau dihapus dengan mudah. Pada masa kepemimpinanya muncul aliran bagdad dari kalangan iktizal dibawah pimpinan Bisyrilibn Mu’tamir yang merupakan seorang pemikir dan pembicara yang cekatan di dalam diskusi-diskusi di depan balai penghadapan khalif. Beberapa upaya yang dilakukan untuk kemajuan dan perkembangan peradaban islam yaitu yang pertama adalah gerakan penerjemahan kegiatan penerjemahan ini sudah dimulai sejak masa Umayyah dan mengalami perkembangan pesat pada masa Abbasiyah. Para penerjemah tidak hanya dari orang Islam tetapi juga dari kalangan Nasrani di Syiria dan Majusi dari Persia. Pelopor gerakan penerjemah pada awal pemerintahan adalah Khalifah Al-Manshur yang juga membangun ibukota Bahgdad. Pada masa Harun AL-Rasyid dikenal Yuhana Yahya ibn Masawayh yang menerjemahkan beberapa tulisan tangan tentang kedokteran yang dibawa oleh khalifah dari Ankara dan penerjemahan buku-buku ini berjalan kurang lebih satu abad, yaitu kurang lebih mulai tahun 750-850. Cabang ilmu pengetahuan yang diutamakan ialah ilmu kedokteran, optika, geografi, fisika, matematika, astronomi, dan sejarah filsafat. Kedua, membangun Bait al-Hikmah yang merupakan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai pusat pembangunan ilmu pendidikan Islam yang berkembang pada masa Harun Al-Rasyid Kuttab atau Maktab yang berarti menulis atau tempat menulis. Pada awalnya Kuttab merupakan pemindahan dari proses pengajaran Al-Qur’an yang berlangsung di masjid yang sifat umumnya berlaku untuk anak-anak dan dewasa. Pendidikan rendah di istana membuat para khalifah menyiapkan anak-anak mereka untuk rencana pendidikan. Pendidikan anak di istana yang meliputi rencana pelajaran dan tujuan di tentukan oleh orang tua murid para pembesar di istana. Toko-toko buku yang berkembang pesat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Majelis yang diadakan oleh khalifah untuk membahas berbagai macam ilmu pengetahuan. Rumah sakit yang bukan hanya berfungsi untuk merawat dan mengobati orang sakit tetapi juga berfungsi sebagai tempat mendidik tenaga medis. Perpustakaan pada masa Abassiyah tumbuh kembangnya dengan pesat perpustakaan-perpustakaan yang bersifat umum maupun yang sifatnya khusus. Masjid sebagai pusat kegiatan dan informasi bagi kaum muslim termasuk dalam kegiatan pendidikan. Rumah para ulama digunakan untuk berbagi ilmu agama, ilmu umum, dan untuk melakukan perdebatan pembahasan ilmiah. Madrasah yang digunakan sebagai tempat untuk menerima ilmu pengetahuan agama secara teratur dan sistematis. Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya Perkembangan hukum Islam pada masa keemasan Dinasti Abbasiyah 750-1258 M merupakan masa keemasan tasyri' Islam karena Daulah Bani Abbasiyyah ini tidak hanya membahas masalah penetapan hukum dan fatwa, tapi sudah merambah kajian medologis dan perumusan perumusan berbagai alternatif bagi perkembangan hukum, iklim dialog yang terbuka dan terus berkembang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan pada masa keemasan Tasyri' Islam pada Pemerintahan Bani Abbasiyyah, untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang menjadikan tasyri' Islam mengalami kemajuan pada masa Bani Abbasiyyah. Hasil penelitian menunjukkaan bahwa pada masa Bani Abbasiyyah sudah ada kajian-kajian ilmiah seperti kajian filsafat, kajian kedokteran, kajian kimia dan budaya serta gerakan penerjemahan buku-buku Yunani dan Romawi ke dalam Bahasa Arab. Gerakan penerjemahan buku karya-karya Aristoteles, Plato, Galen dari Yunani dalam bidang filsafat, kedokteran, dan ilmu pengetahuan lainnya. Ulama'-Ulama' pada masa Bani Abbasiyah yang telah mampu berijtihad, bebas melakukan ijtihad sendiri tanpa harus terikat dengan hasil ijtihad Fuqaha lain ketika sudah memenuhi klualifikasi berijtihad. Transformasi ilmu dan kebudayaan secara besar dari Yunani dan Romawi, tetapi hanya pada perubahan tata cara berpikir Orang Muslim yang dulunya masih simplistis disviativ menuju cara berpikir yang filosofis, analitis dan kritis yang mendorong perkembangan hukum atau tasyri' Islam berkembang pesat. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 1 PERIODE KEEMASAN TASYRI’ PADA MASA DAULAH DINASTI ABBASIYAH 750 – 1258 M Mahmud Zubaidi1a, Muhammad Khoirul Fikri1b, Afif Irfan Ahmad1c, Muhammad Faiq Farhan1d, Muhammad Arifani1e, Miftahul Alam Al-Waro’1f, Muhammad Zaenal Abidin1g, Ridho Nugroho1h 1Islamic Boarding School of JagadAlimussirry Surabaya, Indonesia 2State University Of Surabaya Email mahmudalzubaidi Abstract Perkembangan hukum Islam pada masa keemasan Dinasti Abbasiyah 750 – 1258 M merupakan masa keemasan tasyri’ Islam karena Daulah Bani Abbasiyyah ini tidak hanya membahas masalah penetapan hukum dan fatwa, tapi sudah merambah kajian medologis dan perumusan perumusan berbagai alternatif bagi perkembangan hukum, iklim dialog yang terbuka dan terus berkembang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan pada masa keemasan Tasyri’ Islam pada Pemerintahan Bani Abbasiyyah, untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang menjadikan tasyri’ Islam mengalami kemajuan pada masa Bani Abbasiyyah. Hasil penelitian menunjukkaan bahwa pada masa Bani Abbasiyyah sudah ada kajian-kajian ilmiah seperti kajian filsafat, kajian kedokteran, kajian kimia dan budaya serta gerakan penerjemahan buku-buku Yunani dan Romawi ke dalam Bahasa Arab. Gerakan penerjemahan buku karya-karya Aristoteles, Plato, Galen dari Yunani dalam bidang filsafat, kedokteran, dan ilmu pengetahuan lainnya. Ulama’-Ulama’ pada masa Bani Abbasiyah yang telah mampu berijtihad, bebas melakukan ijtihad sendiri tanpa harus terikat dengan hasil ijtihad Fuqaha lain ketika sudah memenuhi klualifikasi berijtihad. Transformasi ilmu dan kebudayaan secara besar dari Yunani dan Romawi, tetapi hanya pada perubahan tata cara berpikir Orang Muslim yang dulunya masih simplistis disviativ menuju cara berpikir yang filosofis, analitis dan kritis yang mendorong perkembangan hukum atau tasyri’ Islam berkembang pesat. Keywords keemasan; kodifikasi/tadwin; dan madzhab. 2 PENDAHULUAN Perkembangan Islam mengalami kemajuan yang pesat, kemajuan-kemajuan tersebut merupakan suatu hal yang harus diketahui oleh Umat Islam sebagai wawasan, khasanah sejarah bagi agama Islam. Salah satunya perkembangan dalam bidang hukum atau tasyri’. Pada perkembangan tasyri’ dibagi menjadi enam periode, yaitu pertama periode Rasulullah, kedua periode Sahabat/ Khulafaur Rasyidin, ketiga periode Tabi’in, keempat periode keemasan, kelima periode keterpakuan tekstual, dan keenam adalah periode kebangkitan kembali hukum Islam Hasyim Nawawi, 2014. Periode keempat merupakan periode keemasan, yaitu ketika pada masa Dinasty Abbasiyah kepemimpinan Khalifah Harun Al Rosyid. Perkembangan tasyri’ pada masa ini memiki dampak untuk menghantar menuju masa keemasan. Pada masa Bani Abbasiyyah ini tidak hanya membahas masalah penetapan hukum dan fatwa, tapi sudah merambah kajian medologis dan perumusan perumusan berbagai alternatif bagi perkembangan hukum, iklim dialog yang terbuka dan terus berkembang. Perkembangan Islam pada masa keemasan ini, kita dapat mengetahui tokoh-tokoh besar Islam yakni para Imam Mujtahid. Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Bin Hambal, keempat Imam Madzhab respresentatif untuk dijadikan panutan umat Islam di seluruh Dunia. Konsepsi para Imam dalam melakukan ijtihad sangat dipengaruhi faktor sosial budaya, politik dan kecenderungan dari masing-masing Imam. Madzhab meskipun semuanya merujuk dari dua sumber yang transsendental yakni Al-Qur’an dan Sunnah, yang mana Madhzab Imam Hanafi yang bercorak rasional, Imam Maliki bercorak tradisional, Imam Syafi’i memiliki corak moderat dan Imam Hambali bercorak fundamental hal tersebut dipengaruhi dari situasi dan kondisi sosio kultur masyarakat dimana hukum itu tumbuh dan berkembang. PEMBAHASAN 1. REFLEKSI PERKEMBANGAN SOSIAL SEBAGAI FAKTOR PENGHANTAR PROSES TASYRI’ MENUJU ERA KEEMASAN Pada masa Daulah Bani Abbasiyah selain perkembangan keilmuan yang begitu besar ada juga beberapa faktor yang memiliki andil diantaranya adalah dengan berkembangnya kajian-kajian ilimiah seperti kajian filsafat, kajian kedokteran, kajian kimia dan budaya serta gerakan penerjemahan buku-buku Yunani dan Romawi ke dalam Bahasa Arab. Gerakan penerjemahan buku karya-karya Aristoteles, Plato, Galen dari Yunani dalam bidang filsafat, kedokteran, dan ilmu pengetahuan lainnya sehingga bisa dibaca oleh Umat Islam Harun Nasution, 1973 11-2. Transformasi ilmu dan kebudayaan secara besar dari Yunani dan Romawi, tetapi lebih pada perubahan tata cara berpikir Muslim yang dulunya simplistis disviativ menuju cara berpikir yang filosofis, analitis dan kritis. Sehingga dapat kita rasakan dalam ilmu teologi bahkan dalam proses tasyri’ yang mengedepankan argumentasi logis-filosofis. Selain elaborasi di atas masih ada juga faktor utama yang mendorong perkembangan hukum Islam dan berkembang pesatnya ilmu di dunia Islam diantaranya Pertama orang-orang Romawi dan Yunani yang memiliki kebudayaan dan 3 peradaban tinggi yang mana setelah bercampur dengan orang-orang bangsa Arab. Semaraknya kajian-kajian ilmiah ketika berpindahnya Ibukota Pemerintahan pada masa Daulah Abbasiyah ke Kota Baghdad. Sehingga memberikan nuansa baru dalam dunia Islam dan terjadinya enkulturasi dan pembauran Ulama’ yang berafiliasi pada ahli hadist dan ahli ra’yi sehingga melahirkan orde baru dalam dunia Islam. Kedua berkembangnya kebebasan berpendapat pada masa Pemerintahan Daulah Abbasiyah memperbolehkan atau adanya kebebasan berpikir dan berpendapat serta tidak pula membatasi Madzhab tertentu, mereka bebas menentukan, menetapkan dan memutuskan hukum sesuai dengan sumber, metode, dan kaidah yang mereka yakini tingkat kevalidannya tinggi. Seseorang yang telah mampu berijtihad bebas melakukan ijtihad sendiri tanpa harus terikat dengan hasil ijtihad Fuqaha lain. Sedangkan bagi yang belum memenuhi klualifikasi berijtihad, boleh memilih dan bertaqlid pada Madzhab tertentu. Kebebasan berpendapat dan seringnya berdialog, berdiskusi dan munadharah ilmiah yang merupakan salah satu faktor penting bagi perkembangan ilmu tasyri’, perumusan metodologi, dan analisis persoalan-persoalan hukum, terumuskan dalam suasana dialog antar para Fuqoha dan pengikutnya. Imam Mujtahid menawarkan ide dan gagasan menyertainya dengan argumentasi dan dalil-dalil syar’i serta kemaslahatan yang menjadi tujuan moral hukum Islam, para periode sebelumya perbedaan sebatas ruang furu’ particular, sedangkan pada periode saat ini sudah merambah pada persoalan subtansial dan metologis. Sehingga pada periode saat ini dikatakan periode prospektif yang membuka ruang gerak dinamis sehingga melahirkan karya-karya besar seperti kitab Al-Um yang dinobatkan sebagai magnum opus Al Syafi’i. Selain bidang hukum, ilmu kalampun terjadi perdebatan, setiap kelompok memiliki cara berpikir sendiri dalam memahami aqidah Islam. Selain itu, terjadi pula pertarungan pemikiran antara Mutakalimin, Muhadditsin dan Fuqoha Kamil Musa, 1989 136. Kegiatan pelestarian Al-Quran juga menjadi semakin semarak minimal ada dua cara, yaitu dengan dicatat dikumpulkan dalam satu mushaf dan dihafal. Pelestarian Al-Qur’an melalui hafalan dilakukan dengan mengembangkan cara membacanya sehingga saat itu dikenal corak-corak bacaan Al-Qur’an yang dapat dibedakan menjadi dua bacaan yang shahih valid dan bacaan yang syadz cacat. Qira’ah yang dinilai shahih diantaranya Al-Qur’an Al-Sab’ah tujuh pembaca dan Al-Qur’an Al-Asyar sepuluh pembaca mereka adalah Nafi’ Ibn Abi Na’im qori’ di Madinah, Abd Allah Ibn Katsir qori’ dari Makkah, Abu Bakar Ashim Ibn Abu Al-Nujuh qori’ dari Kufah, Abu Amr Ibn Al-Ala Al-Madzani qori’ dari Bashrah, Abd Allah Ibn Amir qori’ di Damaskus. Hamzah Ibn Habib Al-Ziyat, Abu Al-Hasan Ali Ibn Hamzah Al-Kasai, Ya’qub Ibn Ishaq Al-Hadlrami, Khalf Ibn Hisyam Al-Bazzar dan Abu Ja’far Yazid IbnAl-Qa’qa. Pada urutan di atas urutan pertama sampai ketujuh dikenal sebagai A’Immat Al Qira’at Al-Sab’ah, dan urutan pertama sampai kesepuluh dikenal dengan Al-Qur’an Al-Asyar. Kamil Musa, 1989 137. Adanya perbedaan qira’at bacaan tentu mengakibatkan munculnya perbedaan dalam istimbath al-ahkam. Contohnya kata 4 arjulakum dibaca fathah pada huruf lam, maka artinya kaki wajib dibasuh ghust karena di athafkan pada kata wujuhakum wa aydiyakum. Sedangkan jika kata itu dibaca dengan kasroh pada hukum lam arjulikum, maka artinya kaki wajib diusap mash karena di athafkan pada ru’usikum Mana’ Qaththan, 1973 180. 2. GERAKAN KODIFIKASI PADA PERIODE KEEMASAN Elaborasi kodifikasi dalam berbagai disiplin ilmu secara langsung ataupun tidak langsung telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan tasyri’ a. Kodifikasi Hadist Berbeda dengan kodifikasi Al-Qur’an yang sudah ditulis sejal zaman Nabi dan telah dikumpulkan dalam satu mushaf pada zaman Abu Bakar serta ditertibkan bacaanya pada zaman Ustman Bin Affan, sedangkan hadist Nabi lebih banyak dihafal dari pada ditulis. Belum ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi memerintahkan penulisan hadist sebagaimana penulisan Al-Qur’an. Adanya pro dan kontra kebolehan dan larangan penulisan hadist yang memberikan beberapa kesimpulan yang pertama bahwa larangan penulisan hadist itu tidak berlaku untuk umum, melainkan dikhususkan pada penulisan wahyu, kedua larangan penulisan hadist terjadi pada masa-masa awal turunya wahyu, dimana para Sahabat saat itu belum bisa membedakan antara keduanya tetapi setelah itu, para Sahabat diperbolehkan menulis hadist. Pada masa Khulafatur Rosyidin hadist juga belum ditulis secara khusus, bukan khawatir kecampur dengan Al-Qur’an, tetapi khawatir akan terjadi kebohongan atau pemalsuan hadist dan berpalingnya para Sahabat dari Al-Qur’an kepada Hadist. Baru pada Khalifah Umar Bin Abdul Azis Khalifah kedelapan Bani Umaiyyah muncul desakan penulisan hadist. Minimal ada tiga tahapan kodifikasi hadist yaitu 1. Tahap pertama Awal abad ke 2 H ketika masa Khalifah Umar Bin Abdul Azis. Penulisan hadist pada periode ini telah dilakukan secara sistematis perbab contohnya bab sholat, bab jual beli, haji dan lain-lainnya. Hanya saja penulisan hadist masih bercampur dengan fatwa Sahabat, seperti karya Imam Malik Al-Muwatha’. 2. Tahap kedua Dimulai pada akhir abad ke 2 H, penulisan hadist berdasarkan sanad, dimana hadist ditulis berdasarkan sanad tertentu atau berdasarkan nama Sahabat-Sahabat yang meriwayatkan hadist. 3. Tahap ketiga Dimulai sekitar abad ke 3 H sampai akhir abad ke 4 H dimana pada tahap ketiga ini hadist telah terpisah dengan fatwa Sahabat. Pada tahap ketiga inilah kodifikasi hadist dikatakan benar-benar terwujud atau mendekati kesempurnaan, karena dalam penulisannya telah dipisahkan antara yang shahih dan dha’if. Karya agung hadist yang lahir pada perode ini adalah Kutub Al-Sittah yang ditulis oleh Muhammad Bin Ismail Al-Buchari, Muslim Bin Hajjaj Al-Naissabury, Abu Daud Sulaiman Bin Asy’at Al-Jastani, Abu Isa Muhammad Bin Isa Al-Salamani-Tirmidzi, dan Abu Abdur Rahman Ahmad Bin Syuaib An-Nasa’i. 5 b. Kodifikasi Tafsir Kodifikasi tafsir mengalami perkembangan dari masa ke masa, hal ini menunjukkan bahwa tafsir mengalami perkembangan dan tahapan. Pada zaman Sahabat tafsir sudah marak dilakukan baik oleh Sahabat atau oleh Nabi sendiri. Pada Zaman Tabi’in kebutuhan akan tafsir semakin meningkat terutama ketika berhadapan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang kandungan hukumnya masih tersirat secara implisit. Pada akhir periode Tabi’in beberapa Ulama’-Ulama’ diantaranya yang bernama Sufyan Bin Uyainah, Waki’ Bin Jarah dan Ishaq Bin Rawaih mulai mengumpulkan tafsir-tafsir Nabi dan Sahabat dan memisahkannya dari hadist dan mengkodifikasi secara tersendiri yang pada akhirnya menjadi embrio disiplin ilmu tafsir. Disusun secara sistematis menurut kronologi surat dan ayat. Minimal ada dua metode tafsir pada periode ini yaitu 1. Pertama dengan metode tafsir bil ma’stur, yang berdasarkan ayat lain musasabah, hadist dan astar Sahabat. Mufassir yang mengembangkan metode ini diantaranya Al-Suyuthi, Al-Syaukani, Al Thabari. 2. Kedua dengan metode tafsir bil al-ra’yi atau tafsir ijtihadi, dengan menggunakan berdasarkan pemikiran atau ijtihad Ulama’. Perkembangan lebih lanjut dari kodifikasi tafsir pada periode ini terakhir mengarah pada penulisan dan pengkajian tafsir secara tematik, contohnya adalah tafsir ayat ahkam. c. Kodifikasi Fiqih Pada masa Daulah Abbasiyah muncul era baru kodefikasi fiqih, para Fuqoha menulis fatwa-fatwa kemudian diajarkan kepada murid-muridnya. Minimal ada tiga metode penulisan fiqih yaitu 1. Pertama metode penulian fiqh yang bercampur dengan hadist dan fatwa Sahabat dan Tabi’in. 2. Kedua metode penulisan fiqih yang terpisah dari hadist dan fatwa Sahabat. Pelopor metode ini adalah Fuqoha Hanafiyah. 3. Ketiga metode penulisan komparatif yang mengetengahkan berbagai pendapat berikut sumber, metode dan argumentasinya, kemudian didiskusikan untuk mendapatkan pendapat tervalid dengan dalil terkuat. d. Kodifikasi Ushul Fiqih Ushul fiqih merupakan kaidah dasar dan sebenarnya, kaidah-kaidah ushul fiqih lahir bersamaan dengan munculnya embrio dalam berijtihad. Perumus pertama ushul fiqih secara sistematis adalah Al-Syafi’i dalam karyanya Al-Risalah. Pada zaman Sahabat dan Tabi’in kaidah-kaidah ushul fiqih telah menjadi dasar dalam berijtihad. Dasar-dasar ushul fiqih telah ada sejak zaman Nabi dan Sahabat. 3. LAHIR DAN MELEMBAGANYA MADZHAB-MADZHAB Melembaganya Madzhab-Madzhab periode ini menjadi puncak dari prosesi tasyri’ yang merupakan keberlanjutan dari prosesi tasyri’ dari zaman Nabi, Sahabat, Tabi’in. Produk-Produk Fiqih Imam Mujtahid sebagai berikut A. Produk Fiqih Abu Hanifah 1 Benda wakaf pada hakikatnya masih tetap milik wakif. 2 Perempuan boleh menjadi Hakim di Pengadilan khusus yang menangani 6 masalah perdata bukan perkara pidana. 3 Sholat gerhana Matahari dan Bulan adalah dua rokaat sebagaimana sholat Id, tidak dilakukan dua kali ruku’ dalam satu rokaat. Al-Bayanuni, 198350. B. Produk Fiqih Madzhab Maliki 1 Kesucian Mustahadlah Perempuan yang mengalami istahadlah darah yang keluar selain haid dan nifas diwajibkan satu kali mandi. Kesucianya cukup dengan berwudlu dan boleh melakukan sholat Daib Al-Bu’a, 1993443-6. 2 Berjima’ dengan Perempuan Mustahadlah Laki-laki diharamkan berjima’ dengan istrinya ketika sedang haid dan nifas. 3 Qomat Sholat Qomat sholat hanya dilakukan satu kali. 4 Bacaan Sholat dibelakang Imam Ketika sholat berjama’ah, Makmum disunnatkan membaca bacaan sholat ketika bacaan sholat Imam tidak terdengar Al-Jagr dan meninggalkan bacaan sholat ketika bacaan sholat Imam terdengar. 5 Takbir Zawa’id dalam Sholat Hari Raya Takbir zawa’id dalam sholat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha adalah enam kali takbir, selain takbirotulikrom pada rokaat pertama, sedangkan takbir pada rokaat kedua adalah lima kali takbir. 6 Jumlah Rokaat Sholat Witir Menuru Imam Malik paling sedikit tiga rokaat. 7 Sholat Musafir Orang ketika melakukan berpergian atau dalam perjalanan diperbolehkan melakukan sholat qoshar dan jama’. 8 Bacaan Sholat Jenazah Sholat Jenazah terdapat empat kali takbir, setelah masing-masing takbir terdapat bacaan yang dianjurkan dibaca. Menurut Abu Hanifah dan Imam Malik berkata dalam sholat Jenazah tidak ada bacaan Al-Fatihah, yang ada hanyalah do’a. 9 Sujud Tilawah Tempat bacaan sujud tilawah dalam Al-Qur’an yang pembaca dan pendengar dianjurkan sujud terdapat pada 11 ayat. Ayat-ayat Sajdah yang pembacanya dan yang mendengarnya tidak dianjurkan sujud ketika dalam surat Al-Hajj, Al-Insyiqoq dan Al-Alaq atau Alqolam. 10 Nishab Zakat Emas Sebesar 20 dinnar tanpa memperhitungkan harganya. Emas kurang dari 20 dinnar tidak wajib berzakat. 11 Zakat Harta Orang yang Memiliki Hutang Apabila Orang yang bersangkutan memiliki harta untuk membayar utangnya, dan uang kecuali hanya untuk membayar utangnya, atau ia memiliki harta lebih dari utangnya tetapi tidak 7 sampai satu nishab, maka ia tidak wajib zakat. 12 Zakat Utang Orang yang mengutangkan hartanya kepada Orang lain, harta yang dipinjamkan mencapai nishab, yang bersangkutan wajib mengeluarkan zakat secara mutlak, apabila kewajibannya ditunaikan, apabila utang telah dikuasai kembali yang sebanding dengan harta yang mencapai nishab zakat atau apabila jumlah pembayaran utang. 13 Tanaman dan Buah-Buahan yang Wajib Dizakati Harta yang tidak termasuk buah- buahan dan tanaman tidakwajib dizakati. 14 Zakat Tijarah Kadar zakarnya sepersepuluh 10%, kecuali benda-benda yang secara khusus di bawah ke Daerah tertentu. 15 Berhenti Talbiyah Ketika ibadah haji terdapat talbiyah, talbiyah tidak diucapkan kembali jika matahari terbenam pada hari Arafah. 16 Khiyar Majlis Menurut Abu Hanifah dan Imam Malik tidak ada. 17 Barter Gandum dengan Jelai dengan Tambahan Gandum dan Jelai adalah satu jenis, oleh karena itu tidak boleh ditukar dengan tambahan dari salah satunya. 18 Bapak Mengawinkan Anak Perempuannya tanpa Izin Wali Mujbir adalah wali yang berhak mengawinkan anak perempuanya tanpa izin dari anak yang dikawinkannya itu sah. 19 Hak Bulan Madu Bagi Suami yang Berpoligami Apabila perempuan yang dinikahinya masih Gadis, hak bulan madunya tujuh malam, dan hak buan madu janda tiga malam. 20 Kadar Susuan yang Mengharampan Perkawinan Setiap susuan bisa dapat menjadi sebab haramnya menikah dengan Ibu dan Saudara sesusuan, karena banyak sedikitnya susuan adalah sama-sama menjadikan haram untuk dinikahi. 21 Taklak Dua yang Berkelanjutan Perempuan yang dicerai oleh Suaminya dengan talak satu atau talak dua kemudian perempuan tersebut menyelesaikan waktu tunggunya dan menikah lagi dengan laki-laki lain, kemudian ia ditinggal mati atau dicerai kembali oleh Suaminya yang kedua. Maka talak dari pernikahan yang pertama masih berlaku. 22 Talak Selesainya Waktu Tunggu Ila Suami yang melaukan ila Suami yang bersumpah tidak akan mencampuri Istrinya terhadap Istrinya tidak tergolong menceraikan, setelah waktu tunggunya selesai Suami berhak memilih menceraikan atau menyentuhnya kembali. 8 23 Diyat karena Luka oleh Kerabat Ulama’ berpendapat aqilah wajib membayar diyat karena pembunuhan yang tidak disengaja. Menurut Imam Malik tidak wajib membayar diyat jika diyat kurang dari sepertiga. 24 Sanksi Kafir Dzimmi dengan Sengaja Seorang Muslim yang membunuh Kafir Dzimmi tidak dibunuh kecuali pembunuhan tersebut disertai penipuan. 25 Pengaruh Zina terhadap Perkawinan Haram kawin dengan Ibu Mertua 26 Kesaksian Penuduh Zina setelah Bertaubat Imam Malik kesaksian orang menuduh zina diterima setelah bertaubat. C. Produk Fiqih Madzhab Syafi’i Imam Syafi’i melahirkan sebuah ijtihad yang dikenal dengan istilah qaul qadim dan qaul jadid. Qaul qadim adalah pandangan fiqih Imam Syafi'i versi masa lalu. Sedangkan qaul jadid adalah pandangan fiqih Imam Syafi'i menurut versi yang terbaru. Tabel qaul qodim dan qaul jadid 9 Sumber buku Tarikh Tasyri’, 2014 D. Produk Imam Hambali Berikut adalah beberapa produk dari Imam Hambali 1 Nishab harta curian yang Pencurinya harus dikenai sanksi potong tangan adalah ¼ dinar atau 3 dirham. 2 Pemerintahan atau Khalifah harus dari kalangan Quraisy. 3 Mewajibkan taad kepada Imam dan Amirul Mukminin. 4 Jual beli belum diangap lazim meskipun telah terjadi ijab dan qobul akad apabila Penjual dan Pembeli masih dalam satu ruangan tempat tersebut. E. Produk Fiqih Madzhab Zhahiri Daud Al-Zhahiri, sebagaimana dikatakan oleh Al-Syahrastani, termasuk Ulama’ aliran hadist diantara pendapatnya adalah sebagai berikut 1 Junub boleh menyentuh Al-Qur’an 2 Pemimpin mesti dari kalangan Quraisy 3 Bagian Tubuh Wanita yang boleh di lihat ketika dipinang adalah seluruh anggota tubuh boleh dilihat secara mutlak. 4 Menikah dengan Perempuan yang dipinang laki-laki lain dianggap fasakh, baik sudah melakukan pesetubuhan maupun belum. F. Madzhab Syi’ah Terbagi dua yaitu Syi’ah Imamiyah terdiri dari dua belas Imam yang menjadi Murja’ panutan. Kedua Syi’ah Zaidiyah adalah golongan yang berpegang kepada dasar-dasar yang telah digariskan oleh Zaid Ibn Ali Zainal Abidin. 10 KESIMPULAN Perkembangan tasyri’ dibagi menjadi enam periode, yaitu pertama periode Rasulullah, kedua periode Sahabat/ Khulafaur Rasyidin, ketiga periode Tabi’in, keempat periode keemasan, kelima periode keterpakuan tekstual, dan keenam adalah periode kebangkitan kembali hukum Islam. Pada periode keempat merupakan periode keemasan, yaitu ketika pada masa Dinasty Abbasiyah kepemimpinan Khalifah Harun Al Rosyid. Terdapat tiga faktor utama pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah yang menghantarkan tasyri’ menuju masa keemasan yaitu faktor perkembangan sosial, kodefikasi dan melembaganya Imam Madzhab. Berikut beberapa produk pada masa keemasan tarikh tasyri’ yang meliputi semaraknya kajian-kajian ilmiah, kebebasan berpikir, kodefikasi hadist, kodifikasi tafsir, kodifikasi fiqih dan kodifikasi ushul fiqih, melembaganya Imam Madzhab diantaranya meliputi Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Hambali, Madzhab Zhahiri dan Madzhab Syi’ah. Perkembangan tarikh tasyri’ pada masa Daulah Abbasiyah ini dampaknya besar sekali untuk menghantar menuju masa keemasan dan mendorong perkembangan hukum atau tasyri’ Islam berkembang pesat. DAFTAR PUSTAKA Ahmad Al-Usairy. 2008. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX. Cet. Keenam. Jakarta Akbar Media Eka Sarana. Hal. 188. Al-Hakim, Muhammad Taqiy. 1963. Al-Ushul Al-Ammah Li Al-Fiqh Al-Muqarin. Beirut Dar Al-Andalus. Al-Syahwi, Ibrahim Dasuqi. 1961. Al-Sariqah Fi-Al-Tasyri’ Al-slami Muqaram Bi Al-Qonun Al-Qodl’i. Kairo Maktabah Dar Al-Urubah. Hanafi, Ibnu Syuhnah. 1973. Lisan Al-Hukum Fi Ma’rifat Al-Ahkam. Mesir Musthafa Al-Babi-Al-Halabi. Khalaf, Abdul Al-Wahab. Mushadir Al-Tasyri’ Al-Islami Fima La Nashsha Fih. Kuwait Dar Al-Qalam. Muhammad Ali Al-Shabuni, Al-Tibyan Fi Ulum Al-Quran, Maktabat al-Ghazali, Muhammad Nova Efeenty dan Lahaji “Qaul Qadim dan Qaul Jadid Imam Syafi’i Telaah Faktor Sosiologinya,” Skripsi Program S1 Fakultas Syariah IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2015. Musa, Muhammad Kamil. 1989. Al-Madkhal Ila Al-Tasyri’ Al-Islami. Beirut, Mu’assasah Al-Risalah. Nasution, Harun. 1985. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya’. Jakarta, U-Press. Nawawie, Hasyim. 2014. Tarikh Tasyri’. Surabaya, Jenggala Pustaka Utama. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XXAhmad Al-UsairyAhmad Al-Usairy. 2008. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX. Cet. Keenam. Jakarta Akbar Media Eka Sarana. Hal. Qadim dan Qaul Jadid Imam Syafi'i Telaah Faktor SosiologinyaMuhammad Nova Efeenty Dan LahajiMuhammad Nova Efeenty dan Lahaji "Qaul Qadim dan Qaul Jadid Imam Syafi'i Telaah Faktor Sosiologinya," Skripsi Program S1 Contoh Soal Ulangan SKI Kelas XI Aliyah Materi perkembangan ilmu pengetahuan Islam pada masa Abbasiyah Berilah tanda silang x pada huruf A, B, C, D, atau E di depan jawaban yang paling benar! 1. Peradaban Abbasiyah mengalami masa puncaknya pada masa kekuasaan khalifah.... a. Al Mansur b. Harun al-Rasyid c. Musa al- Hadi d. Al Wastiq e. Al Mustaqim 2. Kebijakan khalifah yang menjadi pedoman pemerintahan di tetapkan pada masa.... a. Al Mansur b. Harun al- Rasyid c. Al Makmum d. Abu Musa al-Hadi e. Al Muhtadi 3. Ilmuan yang terkenal Abbasiyah yang menekuni ilmu astronomi adalah .... a. al-Khawarizmi Fazari c. al-Kindi d al-Farabi Bairuni 4. Karya al- gibra dalam bidang matematika adalah karya monumental dari…. a. Al Fazari b. Al Bairuni c. Al Khawarizmi d. Al Muktafi e. Al Makmum 5. Ilmuan barat yang mengaku ikut meng-alih ilmu-ilmu Islam ke Barat, diantaranya.... a. Gundisavi b. Abolor Both c. Gremona d. Pendeta Peter e. Semua jawaban benar 6. Abu Nawas adalah seorang sastrawan besar Abbasiyah, nama aslinya adalah.... a. Muhammad al-Khawarizmi b. Habib bin Awwas c. Ibnu Tamam d. Ibnu Tufail e Dalab bin Ali 7. Imam al- Gazali adalah ilmuan filsafat Abbasiyah , beliau juga di sebut.... a. Filosof relegius b. Hujjatul Islam c. Fuqahah d. Politikus e. Pendidik 8. Hunain bin Ishaq, adalah seorang dokter istana Abbasiyah, sepesial di bidang.... a. Jantung b. Paru-paru c. Mata d. Kulit e. Hati 9. Avesina, seorang ilmuan bidang kesehatan hidup di masa Abbasiyah, tetapi berkebangsan.. a. Mesir b. Turki c. Arab d. Andalusia e. Irak 10. Jabir bin Hayyan, ilmuan Bani Abbasiyah yang menekuni bidang ilmu .... a. Matematika b. Sejarah c. Filsafat d. Fisikadan kimia e. Biologi B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini dengan benar ! 1. Penulisan buku pada masa Abasyah berjalan 3 tingkatan, jelaskan! 2. Uraikan tingkat pertama proses penulisan buku pada masa Abbasiyah! 3. Uraikan tingkat kedua dari proses penulisan buku pada masa Abbasiyah! 4. Jelaskan dengan singkat perkembangan dari ilmu qiraat pada saat Abbasiyah! 5. Jelaskan dengan singkat perkembangan dari ilmu pada masa Abbasiyah! Terima Kasih Atas Kunjungannya. Kunjungilah selalu semoga bermanfaat. Aamiin.

uraikan tingkat pertama proses penulisan buku pada masa abbasiyah